Rabu, 07 Oktober 2009

Jatuhnya Perusahaan Media Massa Akibat Krisis Global

Tribune Co yang menerbitkan Chicago Tribune adalah penerbit pertama di Amerika Serikat yang mengibarkan bendera putih menyusul krisis global yang dampaknya ke mana-mana.
Bisa dipahami jika Tribune Co mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah, sebab perusahaan ini punya utang 13 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 156 triliun, sehingga tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Majalah Newsweek juga diberitakan akan mengurangi jumlah karyawan dan mendesain ulang formatnya sehingga menjadi majalah yang lebih ramping. Dalam format yang baru itu nantinya, sebagaimana ditulis harian The Wall Street Journal, Kamis (11 Desember), foto dan opini akan lebih mendominasi isi Newsweek. Berapa jumlah karyawan yang akan dikurangi belum diketahui dengan pasti.

Krisis global memang membuat AS panik. Perusahaan pertambangan terkenal yang beroperasi di Indonesia diam-diam juga memberhentikan para pekerjanya. Seorang teman, Minggu (14 Desember) memberitahukan bahwa kantor pusat perusahaan itu di Jakarta telah mengistirahatkan 70 karyawannya, dan membuat mereka syok, karena tanpa pemberitahuan.

Sebuah perusahaan asuransi yang juga beroperasi di Indonesia,perusahaan ini sempat berafiliasi ke Lehman Brothers yang bangkrut,diam-diam secara bertahap juga memberhentikan para karyawannya. Cara yang dilakukan perusahaan ini bahkan sangat tidak etis. Sidik jari karyawan yang di-PHK biasanya untuk keperluan absensi dan langsung diblokir. Begitu pula akses komputer. Artinya jika karyawan yang bersangkutan saat akan mulai melaksanakan tugas kantor, komputernya tidak bisa nyala atau tidak bisa diakses, maka itu pertanda yang bersangkutan bakal di-PHK.

Saya tidak tahu persis, apakah model seperti itu yang diberlakukan Chicago Tribune dan Newsweek saat akan mengucapkan “selamat tinggal” kepada para pekerjanya yang kena PHK.
Namun yang pasti bahwa banyak perusahaan media massa cetak yang bakal mati telah diperkirakan banyak pengamat media. Mereka memperkirakan tahun 2020 tidak akan ada lagi koran atau majalah yang benar-benar eksis. Kalaupun masih terbit, oplahnya tidak seperti sekarang. Para pembaca pun lebih terselektif, bukan pembaca umum, tapi anggota komunitas tertentu. Jadi tidak ada koran nasional, tapi koran lokal, bahkan gratisan. Koran hidup berdasarkan uang sumbangan sukarela dari anggota komunitas dan iklan-iklan lokal.

Banyak sebab mengapa industri media cetak tidak lagi eksis. Satu di antaranya adalah harga kertas semakin mahal. Selain itu oleh masyarakat dunia, penggunaan kertas dianggap tidak peduli atau ramah kepada lingkungan.Kebiasaan masyarakat dalam memilih media untuk membaca dan mencari informasi yang selama ini diperoleh lewat media massa cetak, sekarang pun telah berubah. Masyarakat dunia kini beralih ke internet untuk membaca dan mencari informasi.

Ini bukan lagi gejala, tapi fakta. Mesin pencari paling tersohor di dunia Google sekarang ini telah dimanfaatkan oleh siapa pun sebagai pusat segala informasi. Google telah berfungsi sebagai “mesin kabar” menggantikan “surat kabar.” Dengan memanfaatkan Google, informasi apa pun bisa kita peroleh dalam sekejap, modalnya hanya ujung jari.
Kebijakan yang diambil Newsweek juga dilatarbelakangi dengan fakta-fakta di atas. Kompas, Sabtu (13 Desember) memberitakan, seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global, sejumlah media harian dan mingguan di AS mulai sibuk mengurangi pengeluaran. Ini juga didorong oleh perubahan kebiasaan para pembaca yang mulai beralih ke internet. Perubahan ini mengakibatkan jumlah iklan menurun.

Koran The Wall Street Journal menyebutkan, Newsweek tengah mempertimbangkan pengurangan jumlah eksemplar tiap pekan hingga mencapai 500.000 atau paling tidak hingga sekitar 1 juta eksemplar. Biasanya, Newsweek setiap pekan mencetak hingga 2,6 juta eksemplar.
Perubahan besar-besaran yang akan dilakukan Newsweek antara lain termasuk perubahan pendekatan penulisan berita dan editorial yang akan dibuat lebih provokatif dan berdasarkan ide kuat, seperti halnya keunggulan majalah Inggris, Economist.

Mengutip media publikasi bernama Mediaweek, The Wall Street Journal menyebutkan, porsi iklan di Newsweek diperkirakan turun hingga 21 persen pada tahun ini. Hal serupa juga terjadi pada majalah Times. Pada tahun ini jumlah iklan yang masuk ke Times turun hingga sekitar 17 persen.
Tahun ini majalah Times telah mengurangi karyawan. Media massa besar di AS yang lain seperti majalah US News & World Report juga kemungkinan akan lebih fokus pada internet.
Penerimaan iklan yang turun praktis melanda semua surat kabar dan media masa lainnya di AS. Bangkrutnya Chicago Tribune juga disebut-sebut karena pembaca koran itu mulai beralih ke internet. Ujung-ujungnya pemasang iklan menangguhkan pemasangan iklan di samping mereka sendiri mengalami dampak resesi ekonomi.

Lonceng kematian industri surat kabar di AS jelas merupakan kabar buruk bagi pekerja pers di Indonesia. Sampai sekarang oplah surat kabar di Tanah Air berjalan di tempat, karena “prestasi baca” masyarakat Indonesia memang buruk. Belum lagi prestasi itu terpacu, teknologi “mesin kabar” sudah merasuk ke sini.Karena itu bisa dipahami jika mulai tahun depan dan tahun-tahun berikutnya sebagian besar anggaran iklan dialihkan ke media online, bukan lagi ke media cetak.***

Minggu, 04 Oktober 2009

Ingin Kembali dan membalas semua ...!!

  (1) Kalau suatu saat kamu hancurkan hatiku. Akan kucintai kamu dengan kepingannya yang tersisa.

(2) Berusaha melupakanmu, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah kukenal.
(3) Kalau kamu ajak aku melompat bareng, aku nggak bakalan mau. Mending aku lari ke bawah, bersiap menangkapmu.

(4) Aku pernah jatuhkan setetes air mata di selat Sunda. Di hari aku bisa menemukannya lagi, itulah waktunya aku berhenti mencintaimu.

(5) Ga usah janjiin bintang dan bulan untuk aku, cukup janjiin kamu bakal selalu bersamaku di bawah cahayanya.


(6) Pertama ketemu, aku takut ngomong sama kamu. Pertama ngomong sama kamu, aku takut kalau nanti suka sama kamu. Udah suka, aku makin takut kalau jatuh cinta. Setelah sekarang cinta sama kamu, aku jadi benar-benar takut kehilangan kamu. Kamu memang menakutkan!

(7) Ketika hidup memberiku seratus alasan untuk menangis, kau datang membawa seribu alasan untuk tersenyum.
(8) Jika aku bisa jadi bagian dari dirimu, aku mau jadi airmatamu, yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu

(9)Namun ketika semua akan kembali,kan ku balas semua cintamu dengan ketidakpastian ..!!

Sabtu, 03 Oktober 2009

Ilusi Optis

Ditranslasikan dan Diterjemahkan dari Eyetricks.com oleh Wiku the Online Magician

Seringkali, apabila kelima panca indera kita bekerja secara bersamaan, sistem kerja otak kita justru malah menjadi kacau. Bukti dari pernyataan tersebut bisa dilihat dalam ilusi optis berikut ini. Trik ini bisa juga digunakan untuk melakukan "pseudo-hypnosis"

Beraktinglah seolah-olah menghipnotis sukarelawan, dan katakan "Hitung dari 1 sampai 10, dan anda akan kehilangan kemampuan berhitung anda"
Hitunglah jumlah titik hitam pada gambar di bawah ini




"Anda akan merasa pusing. Tatap gambar ini, dan berkonsentrasilah pada lingkaran di tengah gambar, dan gerakkan kepala anda ke kanan dan ke kiri"


"Foto di sebelah kiri menunjukkan gambar orang sedang marah (menyeringai), sedangkan foto di kanan menunjukkan wajah berekspresi normal. Namun cobalah berdiri dan mundur sambil tetap menatap gambar tersebut. Ekspresi keduanya seolah-olah akan bertukar





"Anda akan kehilangan lagi kemampuan berhitung anda. Hitung jumlah kaki gajah pada gambar di bawah"


Ilusi optika ini banyak dimanfaatkan pesulap untuk berbagai hal, seperti menghilangkan benda, membuat sesuatu seolah-olah melayang, dan sebagainya. Intinya, jangan biarkan apa yang anda lihat mempengaruhi pikiran anda. Gunakan selalu otak dan hati nurani.

Sejarah Hipnosis

SEJARAH HIPNOTIS DAN HIPNOTHERAPY

Catatan sejarah diberbagai belahan dunia sudah mencatat
penggunaan teknik yang mirip dengan hypnosis pada ratusan bahkan ribuan
tahun yang lalu. Suku-suku primitif pedalaman melakukan proses
penyembuhan dengan membuat ritual-ritual dengan bacaan mantra yang
dipercaya bisa meringankan bahkan menyembuhkan sejumlah penyakit.
Kesembuhan dengan cara ini mereka yakini berasal dari kekuatan dewa
ataupun roh leluhur yang membantu mereka. Sampai pada tahap ini untuk
mempermudah penyebutannya kita sebut sebagai hypnosis primitif.



Awal berkembangnya hypnosis modern adalah saat
seorang murid Paracelsus bernama Franz Anton
Mezmer (1743-1815) memperkenalkan metode
penyembuhannya dengan menggunakan gosokan
sebatang besi. Metode ini berkembang dengan nama
magnetisme. Mezmer meyakini bahwa ada gelombang
magnit universal (fluidum) dari alam semesta yang
bisa disalurkan kedalam tubuh manusia melalui
perantaraan magnet untuk mencapai kesembuhan. Dan hal yang paling
menarik adalah Mezmer tercatat berhasil menyembuhkan ribuan pasiennya
dengan metode ini.
Bahkan untuk mengatasi jumlah pasien yang semakin meningkat,
Mezmer membuat sebuah kolam magnit dimana semua klien saling
berpegangan dalam kolam tersebut dan mereka menerima “penyaluran”
fluidum dari Mezmer secara paralel.
Suatu saat Mezmer mendapatkan seorang pasien sedangkan dia
sedang tidak membawa magnetnya, Mezmer lalu menggosok-gosokkan
telapak tangannya (passes) pada bagian tubuh pasiennya yang terasa sakit
dan ajaibnya pasien tersebut sembuh. Lalu Mezmer mengumumkan metode
barunya yang disebut animal magnetisme. Konsep animal magnetisme
meyakini bahwa kekuatan magnit alam semesta bisa langsung diterima
tubuh manusia dan disalurkan kepada manusia lain tanpa bantuan batang
magnit.
Semua ajaran Mezmer sangat popular dan berkembang dalam
masyarakat dengan sebutan Mezmerisme. Bahkan metode Mezmer juga
bisa menciptakan keadaan mirip tidur pada pasiennya yang disebut dengan
keadaan mesmeric coma.
Hypnosis berasal dari kata hypnose dari bahasa Yunani yang berarti
tidur. Kata ini dipopulerkan oleh Dr. James Braid (1795-1860) yang
tertarik terhadap fenomena Mezmerisme. Braid menganalisa fenomena
Mezmerisme dan menyimpulkan bahwa mezmeric coma (trance) sematamata
berasal dari kepuasan subyek oleh rangsangan pancaindera sehingga
seluruh tenaga syarafnya berkumpul pada satu titik di otak dan jika ini
terjadi maka dengan mudah tenaga syaraf tadi bisa disalurkan ke bagian
tubuh yang lain walaupun hanya dengan sugesti sederhana.
Braid yang sekarang dikenal sebagai Bapak Hypnosis Modern sempat
menyesali penggunaan kata hypnosis saat dia menyadari bahwa mezmeric
coma adalah keadaan yang sangat berbeda dengan tidur. Braid mencoba
menluruskan kesalahannya dalam menanamakan hypnosis dalam masyarakat
dengan memperkenalkan istilah monoideasme sebagai pengganti kata
hypnosis tetapi dia gagal karena hypnosis sudah terlanjur diterima oleh
masyarakat luas.
Penemuan Braid diteruskan oleh banyak sekali tokoh yang
mengembangkan penelitian efek sugesti dan penggunaannya dalam dunia
medis. Bahkan banyak diantaranya tersebut yang berhasil melakukan
berbagai tindakan operasi dengan menggunakan hypnosis sebagai
penghilang rasa sakit.
Kepopuleran hypnosis mulai redup saat Ether (obat bius) pertama
kali diperkenalkan. Ether lebih diterima karena alasan penggunaannya
yang praktis dan waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi terbilang cepat.